Kejaksaan Milan Bongkar Jaringan Prostitusi Berkedok Event Organizer, 50 hingga 70 Pemain Serie A Masuk Radar Investigasi
JAKARTA, olahraga.incaberita.co.id – Kejaksaan Milan bongkar jaringan prostitusi kelas atas yang bertahun-tahun bersembunyi di balik bisnis hiburan resmi hingga akhirnya runtuh setelah aparat hukum melancarkan operasi penindakan terkoordinasi. Skandal besar ini langsung menghantam wajah sepak bola profesional Italia dengan telak. Hasilnya: empat orang kini tidak bisa kemana-mana, dan uang Rp24 miliar tidak lagi berada di tangan empunya.
Namun yang membuat publik Italia benar-benar tersentak bukan soal jaringannya semata. Dokumen yang penyidik sita dari lokasi operasi menyimpan nama-nama yang sangat tidak terduga — puluhan pesepakbola aktif dari kompetisi paling bergengsi di negeri pizza itu. Angka yang beredar di media Italia menyebut antara 50 hingga 70 pemain Serie A tercantum sebagai klien jaringan tersebut.
Sampai hari ini, tidak satu pun pesepakbola yang namanya muncul menghadapi proses hukum apapun. Kejaksaan dengan sengaja menutup rapat identitas mereka demi menjaga integritas penyelidikan yang masih terus berjalan. Publik hanya bisa menunggu — sementara sepak bola Italia menelan situasi pahit ini dalam diam.
Kejaksaan Milan Bongkar Jaringan Ma.De Milano yang Beroperasi Secara Terstruktur

Sumber gambar : radarmalang.jawapos.com
Dua nama berdiri di jantung skandal ini: Emanuele Buttini dan Deborah Ronchi. Pasangan ini mendirikan Ma.De Milano — sebuah perusahaan yang dari luar tampak seperti agensi promosi acara biasa. Namun di balik papan nama yang bersih, mereka membangun ekosistem hiburan gelap yang menyasar klien-klien dengan kantong tebal.
Kantor pusat operasi mereka berada di Cinisello Balsamo, kawasan utara Milan yang tidak banyak menarik perhatian publik. Dari sana, mereka mengelola rekrutmen, logistik, dan pemasaran jaringan lewat media sosial. Instagram menjadi senjata utama mereka untuk menarik minat calon klien melalui konten pesta eksklusif yang tampak mewah dan legal.
Paket yang mereka tawarkan mencakup akses ke klub malam privat, menginap di hotel bintang lima, dan layanan seksual berbayar dengan tarif mencapai ribuan euro semalam. Sistem yang mereka bangun sangat menjaga kerahasiaan identitas klien — sebuah fitur utama yang membuat jaringan ini diminati kalangan atas selama bertahun-tahun.
Kejaksaan Milan Bongkar Jaringan Ini, Empat Ditangkap dan Rp24 Miliar Disita
Guardia di Finanza — otoritas keuangan Italia — bergerak bersama jaksa untuk menutup operasi Ma.De Milano. Empat orang yang menjadi penggerak utama bisnis ini langsung menghadapi konsekuensi hukum. Buttini, Ronchi, Alessio Salamone, dan Luz Luan Amilton Fraga kini menjalani tahanan rumah dengan tuduhan mengorganisasi dan memfasilitasi prostitusi.
Penanganan kasus ini berada di bawah pimpinan jaksa tambahan Bruna Albertini. Selain menangkap para tersangka, tim penyidik juga menyita uang tunai senilai 1,2 juta euro atau sekitar Rp24 miliar. Dana itu diyakini merupakan keuntungan bersih yang tidak pernah dilaporkan ke otoritas pajak Italia.
Dalam hukum Italia, prostitusi sendiri bukan tindak pidana. Namun mengorganisasi, menjadi perantara, dan mengeksploitasi orang lain demi keuntungan dari prostitusi jelas melanggar hukum. Fondasi hukum inilah yang para jaksa gunakan untuk menjerat keempat tersangka dalam kasus yang kini menjadi sorotan nasional ini.
Temuan Mengejutkan: Wanita Kolombia dan Gas Tertawa dalam Kasus Ini
Dua temuan paling mengejutkan muncul setelah Kejaksaan Milan bongkar jaringan prostitusi ini dan menyedot perhatian media internasional. Rekaman percakapan yang penyidik temukan menyebut seorang wanita asal Kolombia yang mengaku hamil akibat hubungannya dengan sosok yang disebut sebagai “pemain terkenal.” Pesan itu bertanggal Desember 2025 dan isinya menggambarkan kepanikan wanita tersebut saat menyadari kondisinya sudah memasuki minggu ketiga.
Temuan lain yang tidak kalah mengejutkan menyangkut kehadiran nitrous oxide atau gas tertawa dalam sejumlah sesi pesta yang jaringan ini gelar. Gas ini sengaja mereka pilih karena tidak meninggalkan jejak dalam tubuh dan tidak terdeteksi tes anti-doping. Fakta ini menambah lapisan baru dalam penyelidikan yang kini menyentuh wilayah penyalahgunaan zat selain prostitusi.
Kabar yang lebih mengejutkan lagi, jaringan ini tidak berhenti beroperasi bahkan saat pandemi Covid-19 berlangsung. Pada April 2021, polisi menemukan 17 orang berkumpul di kantor Ma.De Milano di tengah pembatasan ketat yang berlaku. Fakta ini menunjukkan betapa beraninya jaringan ini melanggar berbagai aturan yang ada.
Dampak Kasus Ini bagi Reputasi Serie A dan Dunia Sepak Bola Italia
Langkah Kejaksaan Milan bongkar jaringan prostitusi ini berpotensi meninggalkan dampak jangka panjang bagi Liga Italia. Nama-nama besar yang terseret dalam dokumen sitaan menciptakan tekanan luar biasa terhadap citra kompetisi yang selama ini menjadi kebanggaan Italia di panggung sepak bola Eropa. Sponsor, mitra siaran, dan federasi sepak bola Italia kini harus bersikap di tengah badai yang belum jelas ujungnya.
Pihak klub-klub yang namanya disebut memilih tutup mulut dan menunggu. Tidak ada pernyataan resmi yang keluar dari Inter Milan, AC Milan, maupun Juventus sejauh ini. Sikap diam itu bisa dimaklumi karena membela atau menyerang sebelum fakta lengkap terungkap sama-sama berisiko secara hukum dan reputasi.
Dampak terbesar justru mungkin belum datang. Jika jaksa akhirnya membuka identitas para pemain secara resmi, gelombang kedua dari skandal ini bisa jauh lebih besar dari yang pertama. Serie A menghadapi ujian integritas yang tidak hanya menimpa pemainnya, tetapi juga seluruh ekosistem sepak bola Italia yang sudah susah payah membangun kembali citranya pascapandemi.
Kesimpulan
Kejaksaan Milan bongkar jaringan prostitusi berkedok event organizer yang kini menjadi salah satu skandal terpanas dalam sejarah sepak bola Italia modern. Empat tersangka sudah ditahan, Rp24 miliar disita, dan 50 hingga 70 nama pemain Serie A masuk dalam dokumen penyelidikan. Selama belum ada penetapan tersangka dari kalangan pesepakbola, semua nama yang beredar masih berstatus dugaan dan harus diperlakukan dengan asas praduga tak bersalah.
Pantau terus Incaberita untuk mendapatkan perkembangan terbaru seputar skandal yang mengguncang dunia sepak bola Italia musim 2025/26 ini.
Eksplorasi lebih dalam Tentang topik: Liga Italia
Cobain Baca Artikel Lainnya Seperti: Kemenangan Inter Milan vs Como 3-2 Pertandingan 22 April 2026 Guncang San Siro, Calhanoglu Dua Gol dan Sucic Penentu di Menit ke-89
